Jika Anda mencari lowongan pekerjaan sebagai PHP Developer, kemungkinan besar Anda akan menemukan satu persyaratan yang hampir selalu muncul:
Menguasai Laravel.
Mulai dari startup, software house, perusahaan enterprise, hingga instansi pemerintahan banyak yang menggunakan Laravel sebagai fondasi pengembangan aplikasinya.
Pertanyaannya adalah...
Mengapa Laravel bisa menjadi framework PHP paling populer di dunia?
Bukankah PHP sendiri sudah cukup untuk membuat website?
Apakah Laravel hanya sekadar kumpulan library?
Ataukah sebenarnya Laravel menyelesaikan masalah yang selama ini dialami developer PHP?
Pada artikel pertama dalam seri Laravel Zero to Hero ini kita akan menjawab seluruh pertanyaan tersebut sekaligus menyiapkan environment agar Anda dapat membuat project Laravel pertama.
Setelah menyelesaikan artikel ini Anda akan memahami alasan mengapa Laravel lahir, bagaimana cara kerjanya secara umum, serta siap memulai perjalanan belajar Laravel secara terstruktur.
Setelah membaca artikel ini, Anda diharapkan mampu:
Memahami alasan Laravel dibuat.
Mengetahui perbedaan PHP Native dan Laravel.
Memahami konsep framework.
Mengenal sejarah perkembangan Laravel.
Mengetahui ekosistem Laravel.
Melakukan instalasi Laravel dari awal.
Menjalankan project Laravel pertama.
Sebelum Laravel lahir, hampir seluruh aplikasi PHP dibuat menggunakan PHP Native.
PHP Native berarti kita hanya menggunakan bahasa PHP tanpa framework apa pun.
Untuk aplikasi kecil, pendekatan ini tidak menjadi masalah.
Misalnya membuat:
Website profil perusahaan
Form kontak
Sistem login sederhana
Landing page
Namun ketika aplikasi mulai berkembang, berbagai permasalahan mulai muncul.
Bayangkan Anda sedang membangun sistem akademik universitas.
Di dalamnya terdapat:
Login
Dashboard
Mahasiswa
Dosen
Mata Kuliah
Nilai
Jadwal
Pembayaran
Laporan
Jika semuanya ditulis menggunakan PHP Native, biasanya struktur project akan menjadi berantakan.
Beberapa masalah yang sering muncul antara lain:
File bercampur tanpa struktur yang jelas.
Banyak kode yang berulang (code duplication).
Sulit melakukan maintenance.
Sulit bekerja secara tim.
Keamanan harus dibuat sendiri.
Routing dilakukan secara manual.
Validasi form ditulis berulang kali.
Query database tersebar di berbagai file.
Semakin besar project, semakin besar pula biaya maintenance yang harus dikeluarkan.
Inilah alasan mengapa framework mulai banyak digunakan.
Laravel pertama kali dibuat oleh Taylor Otwell pada tahun 2011.
Saat itu framework PHP yang populer adalah CodeIgniter.
Walaupun ringan dan cepat, CodeIgniter memiliki beberapa keterbatasan, misalnya:
Tidak memiliki ORM yang modern.
Dependency Injection masih terbatas.
Fitur autentikasi belum lengkap.
Struktur project kurang fleksibel untuk aplikasi besar.
Taylor Otwell ingin menciptakan framework yang:
Elegan
Mudah dipelajari
Produktif
Modern
Memiliki sintaks yang indah (Expressive Syntax)
Visinya sederhana.
"Developer harus lebih fokus menyelesaikan masalah bisnis daripada menulis kode yang berulang."
Hingga saat ini filosofi tersebut masih menjadi dasar perkembangan Laravel.
Laravel bukan sekadar membuat coding menjadi lebih singkat.
Laravel menyelesaikan banyak masalah yang hampir selalu muncul dalam pengembangan aplikasi.
Misalnya:
Tanpa framework:
if($_SERVER['REQUEST_URI'] == '/about'){
include 'about.php';
}Dengan Laravel:
Route::get('/about', function () {
return view('about');
});Jauh lebih mudah dibaca.
Tanpa Laravel:
Developer harus menulis query SQL secara manual.
Dengan Laravel:
User::all();Laravel sudah menyediakan ORM bernama Eloquent.
Laravel menyediakan sistem login siap pakai melalui berbagai starter kit.
Developer tidak perlu lagi membangun autentikasi dari nol.
Laravel secara bawaan sudah memiliki berbagai fitur keamanan seperti:
CSRF Protection
Password Hashing
SQL Injection Protection
XSS Protection
Encryption
Validation
Semua ini mengurangi kemungkinan kesalahan implementasi keamanan.
Ada banyak alasan mengapa perusahaan memilih Laravel.
Pertama adalah kecepatan pengembangan.
Semakin cepat aplikasi selesai, semakin cepat pula bisnis dapat berjalan.
Kedua adalah biaya maintenance yang lebih rendah.
Karena struktur project sudah terstandarisasi, developer baru dapat lebih mudah memahami kode yang sudah ada.
Ketiga adalah komunitas yang sangat besar.
Jika mengalami kendala, kemungkinan besar sudah ada solusi yang dibahas oleh komunitas.
Keempat adalah ekosistem yang lengkap.
Laravel bukan hanya framework.
Laravel memiliki banyak produk pendukung yang saling terintegrasi sehingga developer tidak perlu membangun semuanya dari awal.
Framework adalah sekumpulan library, aturan, dan struktur yang membantu developer membangun aplikasi dengan lebih cepat, aman, dan terorganisir.
Framework dapat diibaratkan seperti kerangka sebuah rumah.
Daripada membangun semuanya dari nol setiap kali membuat rumah, kita menggunakan kerangka yang sudah terbukti kuat.
Laravel melakukan hal yang sama untuk aplikasi PHP.
Laravel adalah framework PHP open-source yang menggunakan pola arsitektur MVC (Model View Controller) untuk membangun aplikasi web modern.
Laravel menyediakan berbagai fitur bawaan seperti:
Routing
Authentication
Authorization
Queue
Validation
Caching
Scheduler
API Resources
ORM Eloquent
Migration
Testing
Semua fitur tersebut dirancang agar developer lebih produktif.
Perjalanan Laravel cukup menarik.
TahunVersiPerubahan Penting2011Laravel 1Rilis pertama2012Laravel 3Artisan CLI2013Laravel 4Composer Integration2015Laravel 5Middleware, Blade lebih matang2020Laravel 8Factory baru2022Laravel 9PHP 82023Laravel 10Long Term Support terakhir2024+Laravel 11 & 12Struktur project lebih sederhana dan modern
Laravel terus merilis versi baru setiap tahun dengan fokus pada peningkatan performa, keamanan, dan pengalaman developer.
LTS merupakan singkatan dari Long Term Support.
Versi LTS mendapatkan dukungan bug fix dan pembaruan keamanan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan versi reguler.
Bagi perusahaan besar, versi LTS sering dipilih karena lebih stabil untuk aplikasi yang digunakan dalam waktu lama.
Meskipun demikian, Laravel kini lebih menekankan siklus rilis tahunan sehingga penting untuk selalu mengikuti dokumentasi resmi mengenai kebijakan dukungan setiap versi.
Salah satu alasan Laravel begitu populer adalah karena ekosistemnya yang sangat lengkap.
Beberapa produk penting di dalam ekosistem Laravel antara lain:
Laravel Breeze membantu membuat autentikasi sederhana.
Laravel Sanctum memudahkan pembuatan autentikasi API.
Laravel Passport digunakan untuk implementasi OAuth2.
Laravel Horizon memonitor Queue secara real-time.
Laravel Telescope membantu debugging aplikasi.
Laravel Octane meningkatkan performa aplikasi.
Laravel Reverb menyediakan fitur WebSocket.
Laravel Forge mempermudah deployment server.
Laravel Vapor memungkinkan deployment serverless di AWS.
Semua layanan tersebut dibuat agar dapat saling terintegrasi dengan Laravel.
Sebelum membuat project Laravel, pastikan komputer Anda telah memiliki beberapa software berikut.
Pastikan versi PHP yang digunakan sesuai dengan kebutuhan versi Laravel yang akan dipakai.
Anda dapat mengecek versi PHP menggunakan perintah:
php -vPeriksa instalasinya dengan:
composer --versionDisarankan menggunakan Laravel Installer.
composer global require laravel/installerSetelah selesai, cek instalasi.
laravel --versionMenggunakan Laravel Installer.
laravel new blogAtau menggunakan Composer.
composer create-project laravel/laravel blogMasuk ke folder project.
cd blogJalankan server.
php artisan serveBuka browser.
http://127.0.0.1:8000Jika halaman Laravel berhasil tampil, berarti instalasi telah berhasil.
Meskipun Laravel dapat diinstal menggunakan Composer secara langsung, penggunaan Laravel Installer lebih direkomendasikan.
Laravel Installer memiliki beberapa keunggulan:
Lebih cepat membuat project baru.
Selalu mengikuti template terbaru dari Laravel.
Mendukung berbagai starter kit.
Pengalaman developer lebih konsisten.
Jika Anda berencana membangun banyak project Laravel, Laravel Installer akan menghemat waktu dalam jangka panjang.
Kesalahan yang paling sering dilakukan pemula adalah menganggap Laravel sebagai bahasa pemrograman.
Padahal Laravel hanyalah sebuah framework.
Bahasa pemrogramannya tetap PHP.
Artinya, untuk menjadi Laravel Developer yang baik, Anda tetap perlu memahami dasar-dasar PHP seperti variabel, fungsi, array, OOP, dan exception handling.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah langsung menghafal sintaks Laravel tanpa memahami konsep HTTP, request, response, routing, dan MVC. Padahal konsep-konsep tersebut akan terus digunakan, bahkan ketika Anda berpindah ke framework lain.
Bayangkan sebuah perusahaan memiliki aplikasi inventori yang dibangun menggunakan PHP Native.
Awalnya aplikasi hanya memiliki lima halaman sehingga masih mudah dikelola. Namun setelah tiga tahun, aplikasi berkembang menjadi ratusan halaman dengan banyak fitur baru.
Setiap kali ada perubahan kecil, developer harus membuka banyak file untuk memastikan tidak ada fungsi yang rusak. Proses penambahan fitur menjadi lambat, bug semakin sering muncul, dan onboarding developer baru memakan waktu lama karena tidak ada struktur yang konsisten.
Setelah aplikasi tersebut dimigrasikan ke Laravel, struktur kode menjadi lebih rapi dengan pemisahan antara Model, View, dan Controller. Routing terpusat, validasi dipindahkan ke Form Request, akses database menggunakan Eloquent ORM, dan autentikasi memanfaatkan fitur bawaan Laravel. Hasilnya, proses pengembangan menjadi lebih cepat, kualitas kode meningkat, dan tim lebih mudah berkolaborasi.
Studi kasus ini menggambarkan mengapa banyak perusahaan memilih Laravel, terutama ketika aplikasi mulai bertumbuh dan membutuhkan maintainability yang baik.
Sekarang giliran Anda.
Lakukan beberapa langkah berikut secara mandiri:
Install PHP.
Install Composer.
Install Laravel Installer.
Buat project baru bernama blog.
Jalankan aplikasi menggunakan php artisan serve.
Buka aplikasi di browser dan pastikan halaman welcome Laravel berhasil muncul.
Jika berhasil menyelesaikan tantangan ini, berarti Anda sudah siap mengikuti materi berikutnya.
Pada artikel ini kita telah mempelajari bahwa Laravel hadir untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pengembangan aplikasi PHP, seperti struktur kode yang tidak terorganisir, banyaknya kode yang berulang, hingga sulitnya melakukan maintenance pada project berskala besar.
Kita juga mengenal konsep framework, sejarah lahirnya Laravel, evolusi versinya, serta ekosistem yang menjadikan Laravel lebih dari sekadar framework. Terakhir, kita menyiapkan environment pengembangan dan berhasil menjalankan project Laravel pertama menggunakan Laravel Installer maupun Composer.
Langkah ini menjadi fondasi yang sangat penting sebelum mempelajari cara kerja Laravel lebih dalam.
Sangat disarankan. Laravel dibangun di atas PHP sehingga pemahaman dasar mengenai sintaks, OOP, dan konsep HTTP akan mempercepat proses belajar.
Ya. Laravel bersifat open-source dan dapat digunakan secara gratis, baik untuk project pribadi maupun komersial.
Keduanya dapat digunakan untuk membuat project Laravel. Namun Laravel Installer lebih direkomendasikan karena prosesnya lebih sederhana, cepat, dan selalu mengikuti template terbaru.
Ya. Dokumentasi yang lengkap, komunitas yang besar, serta sintaks yang mudah dipahami membuat Laravel menjadi salah satu framework yang ramah bagi pemula.
Tidak. Laravel dapat digunakan untuk membangun berbagai jenis aplikasi, seperti REST API, backend aplikasi mobile, dashboard admin, sistem ERP, CRM, hingga aplikasi enterprise.
Untuk memperdalam materi pada artikel ini, Anda dapat membaca beberapa referensi resmi berikut:
Dokumentasi resmi Laravel
Dokumentasi PHP
Dokumentasi Composer
PSR (PHP Standards Recommendations)
Membiasakan diri membaca dokumentasi resmi sejak awal akan sangat membantu ketika Anda mulai mengembangkan aplikasi Laravel yang lebih kompleks.
Cara Kerja Request Lifecycle Laravel: Memahami Alur Request dari Browser hingga Response
By Fadil Hijayat Rumasoreng
Mengapa Laravel bisa menjadi framework PHP paling populer di dunia
By Fadil Hijayat Rumasoreng
Let's discuss how we can help you achieve your digital goals